Oleh DR. Yon Noviar (alumni Psikologi Unpad)

Rekan Seangkatan DR.  Yadi Purwanto

Bukanlah kematian yang harus ditakutkan, namun sesudahnyalah yang harus dicemaskan. Kematian adalah puncak setiap makhlu€k di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.

 

Kematian merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian dikembalikan.” (Qs Al-Ankabut: 57). Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan, memisahkan seseorang dari keluarganya, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang menjadi kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai kematian dan kehidupan.

Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Jiwa manusia tercabut  dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Jiwa kembali menjadi Roh. Seluruh rasa sakit yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.

Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.

Sebaliknya, siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya.

Persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan tauhid kepada Penguasa alam semesta dengan beribadah kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk kesyirikan.

Inalillahi wa innailaihi rojiun, selamat jalan saudaraku Yadi Purwanto rahimahullah, Allah menyayangimu, Dia telah mengurangi dan meluluhkan semua dosamu dengan sakitmu, in-sya Allah.